• بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    Faidah Kajian Rutin Masjid Al-Fattah - Syarah Riyadhush Shalihin [18 Sya'ban 1436 H]


    Pembahasan Kitab: Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadhush Shalihin "Bab 5 Muraqabah - Hadits ke-61 dan 62"
    Pemateri: al-Ustadz Salim Al-Muhdhar -hafizhahullah-

    Definisi Muraqabatullah

    Dapat dikatakan, bahwa puncak ibadah dan sempurnanya ketaatan kepada Allah akan diraih oleh seorang hamba saat ia benar-benar telah memiliki sifat muraqabatullah yaitu merasa senantiasa diawasi oleh Allah

    Muraqabatullah berarti pengawasan Allah, yaitu Ilmu Allah yang sangat luas, meliputi langit dan bumi, yang nampak dan tersembunyi, lahir dan batin, besar dan kecil. Tidak ada yang satu pun dari makhluk Allah yang tersembunyi dari-Nya. Tidak ada tempat dan saat dimana Allah tidak mengetahui apa yang terjadi di dalamnya. 

    Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Muraqabah adalah ilmu dan keyakinan seorang hamba yang kontinyu terhadap pengawasan ilmu Allah, baik kepada kondisi lahir dan batinnya. Ilmu dan keyakinan yang kontinyu inilah yang disebut dengan muraqabah, ia adalah buah dari ilmu yang dimilikinya bahwa Allah senantiasa mengawasinya, melihatnya, mendengar segala yang dikatakannya, menyaksikan yang diperbuatnya setiap waktu dan setiap saat, setiap desah nafas dan kedipan mata.” (Madarijus Salikiin: 2/264)

    Allah berfirman:

    وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ

    "dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya." (QS. Al Baqarah [2]: 235)

    Muraqabatullah erat kaitannya dengan "Ma'iyatullah" (kebersamaan Allah dengan makhluknya). Mai'yatullah sendiri dibagi menjadi 2 poin utama:

    1. Ma'iyatullah 'Ammah (secara umum), yaitu kebersamaan Allah yang meliputi seluruh makhluknya, baik manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan, muslim maupun kafir. Seperti penglihatan Allah, pendengaran Allah, petunjuk Allah, pengabulan doa dari Allah.

    2. Ma'iyatullah Khashash (secara khusus), yaitu kebersamaan Allah yang ditujukan khusus untuk orang-orang yang beriman. Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang beriman ialah berupa penjagaan dan pemeliharaan Allah serta pertolongan dan kemenangan dari Allah.

    Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Ya ghulam (anak kecil), aku ajarkan kepadamu beberapa wasiat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi No. 2516, Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam Silsilah Shahihah: 1470)

    Banyak orang salah mengartikan kebersamaan Allah di sini sebagai bentuk bahwa Allah selalu bersama makhluk-Nya secara fisik. Sehingga mereka mengatakan bahwa Allah ada dimana-mana

    Padahal, sudah dijelaskan dalam al-Qur'an, bahwa kedudukan Allah yaitu beristiwa' di atas 'Arsy. 

    "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-A'raf [7]: 54)

    Allah dapat mengetahui gerak-gerik makhluk-Nya bukan karena Dia bersama secara fisik dengan makhluk-Nya, melainkan dengan 'Ilmu yang Allah miliki. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

    وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَلِيمًا

    "dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu, dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun." (QS. Al Ahzab [33]: 51) 

    Dalam suatu kaidah dalam bahasa Arab:
    "Apabila dalam bahasa Arab ada ungkapan yang mengandung kata مع (kebersamaan), maka tidak berarti kebersamaan itu harus berupa satu kesatuan yang menyatu."

    Hadits ke-61:

    Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Isma'il ibn Ibrahim telah menceritakan kepada kami, Abu Hayyan al-Taimiy dari Abi Zur'ah telah menyampaikan kepada kami dari Abu Hurairah berkata: Pada sesuatu hari ketika Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan bertanya, "apakah iman itu?". Jawab Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam: "iman adalah percaya Allah Subhanahu wa ta’ala, para malaikat-Nya, dan pertemuannya dengan Allah, para Rasul-Nya dan percaya pada hari berbangkit dari kubur". ‘Lalu laki-laki itu bertanya lagi, "apakah Islam itu?" Jawab Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam, "Islam ialah menyembah kpd Allah & tdk menyekutukan-Nya dgn sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat yg difardhukan & berpuasa di bulan Ramadhan." Lalu laki-laki itu bertanya lagi: "apakah Ihsan itu?" Jawab Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam, "Ihsan ialah bahwa engkau menyembah kpd Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tdk mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu." “Lalu laki-laki itu bertanya lagi: "apakah hari kiamat itu?" Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam menjawab: "orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya, tetapi saya memberitahukan kepadamu beberapa syarat (tanda-tanda) akan tibanya hari kiamat, yaitu jika budak sahaya telah melahirkan majikannya, dan jika penggembala onta dan ternak lainnya telah berlomba-lomba membangun gedung-gedung megah. Termasuk 5 perkara yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah, selanjutnya Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam membaca ayat: 'Sesungguhnya Allah hanya pd sisi-Nya sajalah yg mengetahui hari kiamat…'. Kemudian orang itu pergi. Lalu Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada para sahabat: "antarkanlah orang itu. Akan tetapi para sahabat tidak melihat sedikitpun bekas orang itu. Lalu Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: "Itu adalah Malaikat Jibril yang datang untuk mengajarkan agama kepada manusia." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad bin Hambal).

    Faidah Hadits:
    Ihsan adalah tingkatan tertinggi dalam agama setelah Islam dan Iman. Dan tingkatan ihsan hanya dapat dicapai dengan muraqabatullah. Ini juga berarti, derajat ibadah seorang hamba sangat ditentukan oleh sebesar apa kehadiran muraqabah yang ada dalam hatinya. Semakin tinggi muraqabahnya, semakin baik ia dalam beramal, semakin kuat ia dalam beribadah, kian mampu ia meninggalkan segala yang dibenci dan dimurkai oleh Allah.

    Hadits ke-62:
    Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: ‘Rasulullah Shallallahu’ alayhi wa sallam bersabda,

    "Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik" (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih’)

    Faidah Hadits:
    1. Allah memerintahkan manusia untuk bertaqwa di mana saja, artinya Allah mengawasi makhluk-Nya di mana saja tanpa ada yang terlewat satupun. Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam mewasiatkan untuk konsisten dalam bertaqwa, dimana pun berada, kapan pun dan dalam keadaan apapun. Karena seorang hamba senantiasa sangat-sangat dituntut untuk bertaqwa, tidak ada satu kesempatan pun ia boleh melepaskan taqwa itu.

    2. Lalu ketika seorang hamba tidak menunaikan dengan baik apa-apa yang menjadi hak dan kewajiban taqwa, Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam memerintahkan untuk melakukan hal yang dapat membayar dan menghapus kesalahan itu. Yaitu melakukan kebaikan (al-hasanah) atas keburukan yang telah dilakukan. Al-hasanah adalah istilah yang mencakup segala hal yang mendekatkan diri hamba kepada Allah Ta'ala. Al-hasanah yang paling utama yang dapat membayar sebuah kesalahan adalah taubat nasuha, disertai istighfar dan kembali kepada Allah. Dengan berdzikir kepada-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan karunia-Nya setiap waktu.

    3. Yang paling pertama dari akhlak yang baik adalah tidak mengganggu orang lain dalam bentuk apapun, dan kita pun terjaga dari gangguan dan kejelekan mereka. Setelah itu kita harus bermuamalah dengan mereka dengan perkataan dan perbuatan yang baik.

    Wallahua'lam bish shawab

    Semoga bermanfaat,
    Baarakallahu fiikum

    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Pesan

    Satu hal yang perlu kita perhatikan bersama bahwa halaman ini hanyalah sebagai jalan alternatif dalam menuntut ilmu, bukan jalan yang paling utama. Sehingga dengan adanya halaman ini -dan halaman-halaman majelis ilmu yang lainnya- tidaklah dimaksudkan dengannya sebagai sebuah kecukupan untuk mempelajari ilmu. Karena itu kami sama sekali tidak membenarkan seorang muslim yang hanya mencukupkan dirinya untuk mengambil ilmu melalui halaman2 di sosial media lalu berasa cukup dengannya sehingga dia lalai dari menghadiri majelis ilmu.

    Rasulullah bersabda:

    مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

    “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu (syar’i), Allah akan memudahkan baginya dengan ilmu tersebut, jalan menuju surga.” - [HR. Muslim no. 2699].

    Semangat dalam menuntut ilmu agama harus lebih besar dari menuntut ilmu dunia. Karena ilmu agama menentukan kebahagiaan dunia dan akhirat, sedang ilmu dunia hanya untuk kebahagiaan dunia saja.

    Semoga kita semua dimudahkan langkahnya dalam menghadiri taman-taman surga ini.

    Semoga bermanfaat, baarakallahu fiikum