• بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    Faidah Daurah Cileungsi Bogor - Kitab At-Tauhid Bab 1 [18 Shafar 1435 H]


    Pembahasan Kitab: At-Tauhid -  Bab 1: Hakikat dan Kedudukan Tauhid
    Pemateri: al-Ustadz Abdurrahman Mubarok -hafizhahullah-

    Definisi Tauhid

    Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi'il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Secara istilah syar'i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya 

    Pembagian Tauhid

    Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab membagi tauhid menjadi 3:
    1. Tauhid Rububiyah
    2. Tauhid Uluhiyah
    3. Tauhid Asma was Shifat

    Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta'ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll. Dalilnya:

    "Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Mengadakan gelap dan terang" (QS. Al-An'am [6]: 1)

    Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir maupun batin. Dalilnya:

    "Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan" (QS. Al-Fatihah [1]: 5)

    Tauhid Asma' was Shifat adalah mentauhidkan Allah Ta'ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam al-Qur'an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam. Dalilnya:

    "Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya" (QS. Al-A'raf [7]: 180)

    Hakikat dan Kedudukan Tauhid

    Allah berfirman:

    "(151) Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu-bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). (152) Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. (153) Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." (QS. Al-An'am [6]: 151-153)

    "Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia..."

    Huruf لا dalam kalimat أَلا تُشْرِكُوا adalah shilah. Dengan demikian, Allah mengharamkan kesyirikan sebagaimana Allah mengharamkan yang lain, namun kesyirikan ini adalah perkara yang paling besar keharamannya.

    الشِّرْكُ artinya memalingkan suatu ibadah kepada selain Allah

    "...dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." 

    Subul (jalan-jalan yang lain) adalah bid'ah hawa nafsu dan syubhat yang dilarang oleh Allah. Sebelum menyebutkan subul ini, Allah menyebutkan pada ayat sebelumnya, "semoga kalian ingat", karena seorang hamba berpikir terlebih dahulu, lalu memperhatikan, mengenal, dan mengingat. Setelah itu, ia bertakwa, mengerjakan apa yang bermanfaat, dan meninggalkan hal-hal yang mudharat baginya.

    Firman Allah ini mencakup 10 hal penting:

    1. Kesyirikan

    2. Berbuat baik kepada orang tua (birrul walidain). Perintah ini disebutkan setelah penyebutan hak Allah, ini menunjukkan besarnya hak orang tua. Dengan demikian durhaka kepada keduanya merupakan salah satu dosa yang paling besar.

    3. Larangan membunuh anak sendiri. 

    4. Larangan mendekati perbuatan keji. Perbuatan keji mencakup perbuatan maksiat, seperti ghibah, namimah, tajassus, zina, dan mencuri. Diistilahkan seperti itu karena akal yang sehat dan jiwa yang selamat pasti mengingkarinya

    5. Larangan membunuh kecuali yang dibolehkan syari'at. Haram hukumnya membunuh jiwa seorang mukmin dan jiwa orang kafir yang meminta perlindungan dan terdapat perjanjian damai.

    6. Larangan memakan harta anak yatim, yaitu anak kecil yang ditinggal mati bapaknya sebelum baligh. Secara umum tidak boleh menggunakan hak-hak anak yatim untuk penggunaan pribadi, kecuali jika pengurus anak yatim tersebut adalah seorang fakir, maka dia boleh menggunakannya sekadarnya saja.

    7. Menyempurnakan timbangan dan takaran dengan adil

    8. Wajibnya bersikap adil, baik dalam bertutur kata, dalam berbuat, kepada siapa saja dan dimana saja

    9. Wajibnya menepati janji terhadap makhluk dan janji Allah. Janji Allah adalah segala yang Allah perintahkan dalam ibadah. Salah satu bentuk menepati janji Allah adalah tidak bermaksiat kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan siapapun

    10. Penghalalan dan pengharaman adalah mutlak milik Allah

    Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Barangsiapa yang ingin melihat wasiat Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam yang tertera di atas cincin stempel milik beliau silakan membaca firman Allah, "Katakanlah (Muhammad), 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu yaitu, 'Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya'" sampai ayat, "Sungguh inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain." - (HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (3070), al-Baihaqi dalam Syuabul Iman (7918), ath-Thabrani dalam al-Ausath (1186), Syaikh al-Albani mendhaifkan hadits ini dalam Dhaif Sunan at-Tirmidzi)

    Penjelasan:
    Ibnu Mas'ud berkata "Barangsiapa yang ingin melihat wasiat Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam yang tertera di atas cincin stempel milik beliau..." Sepertinya Rasulullah menulis wasiat itu di cincin. Wasiat ini merupakan wasiat Allah, juga wasiat Rasulullah.

    Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu pernah berkata:
    "Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan akan tetapi tidak meraihnya"

    Faidah:
    1. Suatu amalan tidak bisa dikatakan bahwa amalan tersebut merupakan amalan yang sholeh dan diterima oleh Allah kecuali jika memanuhi dua persyaratan. Harus dibangun diatas niat yang ikhlas dan harus sesuai dengan syari'at Rasulullah. Jika salah satu dari dua perkara ini tidak ada maka amalan tersebut tidak akan diterima di sisi Allah walaupun nampaknya seperti amalan sholeh.

    2. Ibadah membutuhkan keikhlasan (pemurnian niat) karena sesungguhnya ibadah hanyalah ditujukan kepada Allah. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dan juga beribadah kepada selain Allah berarti dia tidak memurnikan niatnya. Demikian juga ibadah membutuhkan pemurnian dalam mencontohi Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Tidaklah ada satu ibadahpun kecuali harus sesuai dengan contoh yang diberikan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Barangsiapa yang ibadahnya tidak berdasarkan contoh yang diberikan Rasulullah berarti ia tidak memurnikan teladan kepada Rasulullah. Inilah konsekuensi dari syahadatain yang merupakan fondasi setiap muslim.

    3. Syahadat yang pertama "Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah", konsekuensinya tidak boleh kita menyembah (menyerahkan ibadah kita) kepada selain Allah.

    Semoga bermanfaat,
    Baarakallahu fiikum

    Ma'had Riyadhul Jannah, Cileungsi
    18 Shafar 1435 H

    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Pesan

    Satu hal yang perlu kita perhatikan bersama bahwa halaman ini hanyalah sebagai jalan alternatif dalam menuntut ilmu, bukan jalan yang paling utama. Sehingga dengan adanya halaman ini -dan halaman-halaman majelis ilmu yang lainnya- tidaklah dimaksudkan dengannya sebagai sebuah kecukupan untuk mempelajari ilmu. Karena itu kami sama sekali tidak membenarkan seorang muslim yang hanya mencukupkan dirinya untuk mengambil ilmu melalui halaman2 di sosial media lalu berasa cukup dengannya sehingga dia lalai dari menghadiri majelis ilmu.

    Rasulullah bersabda:

    مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

    “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu (syar’i), Allah akan memudahkan baginya dengan ilmu tersebut, jalan menuju surga.” - [HR. Muslim no. 2699].

    Semangat dalam menuntut ilmu agama harus lebih besar dari menuntut ilmu dunia. Karena ilmu agama menentukan kebahagiaan dunia dan akhirat, sedang ilmu dunia hanya untuk kebahagiaan dunia saja.

    Semoga kita semua dimudahkan langkahnya dalam menghadiri taman-taman surga ini.

    Semoga bermanfaat, baarakallahu fiikum