• بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    Faidah Daurah Cileungsi Bogor - Kitab At-Tauhid Bab 2 [22 Rabi'uts-tsanni 1435 H]


    Pembahasan Kitab: At-Tauhid -  Bab 2: Keistimewaan Tauhid dan Dosa-dosa yang Diampuni Karenanya
    Pemateri: al-Ustadz Abdurrahman Mubarok -hafizhahullah-

    Firman Allah:

    "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat ketentraman dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat jalan hidayah." (QS. Al-An'am [6]: 82)

    Tafsir:
    Ketika ayat ini turun, para sahabat merasa berat. Kemudian mendatangi Rasulullah dan bertanya, "Siapakah di antara kami yang bisa terbebas dari kezhaliman atau menzhalimi diri sendiri?" Mereka mengira bahwa yang dimaksud kezhaliman dalam ayat itu adalah kezhaliman dalam arti kemaksiatan.

    Rasulullah menjawab: "Tidakkah kalian mendengar ucapan seorang hamba yang shalih, 'Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezhaliman yang besar.'" (HR. Bukhari No. 4776 dan Muslim No. 124)

    Syarah Hadits: Adapun orang-orang yang beriman, jika mereka terhindar dari syirik besar, syirik kecil, dan kezhaliman kepada orang lain, maka mereka telah mendapatkan hidayah yang lengkap dan ketentraman yang sempurna di dunia dan akhirat. Akan tetapi, meskipun mereka selamat dari syirik besar, tapi masih melakukan syirik kecil dan perbuatan dosa, maka hidayahnya belum lengkap. Bahkan bisa jadi ia akan dimasukkan ke neraka lantaran maksiat yang dia kerjakan sampai mati.

    Ubadah bin Shamit radhiyallahu'anhu berkata bahwa Rasulullah bersabda:

    "Barangsiapa bersyahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, Isa adalah hamba dan Rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan surga itu benar adanya dan neraka juga benar adanya, Allah pasti memasukkannya ke surga apa pun amal yang telah diperbuatnya." (HR. Bukhari No. 3435 dan Muslim No. 28)

    Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits dari Itban bin Malik radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah bersabda:

    "Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang-orang yang mengucapkan لا إله إلا الله dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah." (HR. Bukhari No. 425 dan Muslim No. 33)

    Syarah Hadits:
    "Barangsiapa bersyahadat dengan benar, Allah akan memasukkannya ke dalam surga." Hadits ini disebut hadits muthlaq yang menerangkan keutamaan syahadat. Namun ada hadits lain yang muqayyad yang harus dikaitkan dengan hadits sebelumnya. Dengan begitu, maksud mengucapkan syahadat dengan benar adalah menjalankan hak-hak syahadat tersebut yaitu diwujudkan dengan ibadah hanya kepada Allah, jujur, patuh, cinta, menerima, ikhlas, dan mengikuti dan menaati Rasulullah. Barangsiapa yang bersyahadat tapi masih mencampurnya dengan perbuatan maksiat dan dosa lainnya atau hanya mengucapkan dengan lisan, tapi tetap melakukan perbuatan syirik dalam hatinya, maka syahadat yang dia ucapkan tidak bermanfaat sama sekali.

    "...apa pun amal yang telah diperbuatnya." Maksudnya, bagaimanapun ia berbuat, baik atau tidak, selama ia masih bersyahadat dengan ikhlas dan beriman kepada-Nya. Masuknya seseorang ke surga bisa secara langsung bisa ditunda. Orang yang bertaubat, beramal shalih dan jujur bisa jadi langsung dimasukkan ke dalam surga. Akan tetapi, orang yang mengerjakan perbuatan dosa dan maksiat, dimasukkan ke dalam neraka dan dosa-dosanya dibalas dahulu, baru dimasukkan ke surga.


    Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alayhi wa sallam bersabda,

    "Musa berkata : "Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu". Allah berfirman, "Ucapkan hai Musa لا إله إلا الله ". Musa berkata, "Ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu". Allah berfirman, "Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya -selain Aku- dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimat laa ilaha illallah diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimat laa ilaha illallah  lebih berat timbangannya." (HR. Ibnu Hibban no. 6218. Al Hakim menshahihkan hadits ini dan Imam Adz Dzahabi menyetujuinya. Al Hafizh Ibnu Hajar menshahihkan sanad hadits ini dalam Al-Fath. Al-Haitsami dalam Az-Zawaid mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya (1393), perawinya ditsiqahkan atau dipercaya, namun di dalamnya ada perawi yang dha'if. Sedangkan Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini dha'if dalam Kalimatul Ikhlas 1/58).

    Syarah Hadits:
    Hadits ini menunjukkan keutamaan kalimat لا إله إلا الله. Dalam ucapan Musa 'alayhissalam terkandung 2 hal, yaitu dzikir dan doa. Syahadat ini sekaligus dzikir kepada Allah karena di dalamnya terkandung pengakuan akan kesaan Allah. Selain itu juga sebagai doa karena orang yang mengucapkannya mengharapkan pahala. Hal ini juga berlaku untuk semua jeniz dzikir, tasbih, tahmid, dan tahlil.

    Dari Anas bin Malik Radhiyallahu'anhu ia berkata, "Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: 

    "Allah Azza wa Jalla berfirman, 'Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.'" (HR. at-Tirmidzi No. 3540, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi No. 2805)

    Syarah Hadits:
    Hadits ini menunjukkan bahwa kalimat tauhid bisa menghapuskan semua dosa

    Pandangan ulama dalam masalah ini terbagi menjadi 2:
    1. Keutamaan ini hanya diperoleh orang-orang yang mengucapkan kalimat ini dengan ikhlas dan benar, tidak tenggelam dalam kemaksiatan, dan menegakkan kalimat tauhid ini sehingga ia menjadi pribadi yang menegakkan semua kewajiban syari'at dan meninggalkan semua larangan Allah, dan istiqamah di atas agama Allah dalam segala urusan

    2. Berlaku untuk orang yang mengucapkan kalimat ini, bertaubat kepada Allah atas segala kesalahan, dan benar-benar melepaskan diri dari semua dosanya. Kalimat tauhid akan menggugurkan dosa-dosanya.

    Faidah dari Bab ini:

    1. Luasnya karunia Allah
    2. Besarnya pahala tauhid di sisi Allah
    3. Tauhid dapat menghapus dosa
    4. Penjelasan ayat yang ada di dalam QS. Al-An'am
    5. Perhatikan kelima masalah yang ada dalam hadits Ubadah bin Shamit
    6. Perlu diperhatikan syarat-syarat yang disebutkan dalam hadits Itban bin Malik (ikhlas semata-mata karena Allah dan tidak menyekutukan-Nya)
    7. Para nabi juga sebagai hamba Allah perlu diingatkan akan keistimewaan لا إله إلا الله
    8. Bumi itu tujuh lapis seperti halnya langit
    9. Surga dan neraka itu benar adanya
    10. Langit dan bumi itu ada penghuninya
    11. Hakikat kalimat لا إله إلا الله adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, bukan hanya mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan saja
    12. Nabi Muhammad dan Nabi Isa sama-sama hamba Allah dan Rasul-Nya
    13. Mengetahui keistimewaan nabi Isa sebagai Kalimat Allah. Kalimat Allah maksudnya, bahwa Nabi Isa itu diciptakan Allah dengan firman-Nya "Kun" (jadilah) yang disampaikan-Nya kepada Maryam melalui malaikat Jibril
    14. Mengetahui kebenaran adanya Wajah bagi Allah

    Wallahua'lam
    Semoga bermanfaat
    Baarakallahu fiikum

    Ditulis di Ma'had Riyadhul Jannah, CIleungsi, Bogor
    22 Rabi'ut-Tsanni 1435 H

    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Pesan

    Satu hal yang perlu kita perhatikan bersama bahwa halaman ini hanyalah sebagai jalan alternatif dalam menuntut ilmu, bukan jalan yang paling utama. Sehingga dengan adanya halaman ini -dan halaman-halaman majelis ilmu yang lainnya- tidaklah dimaksudkan dengannya sebagai sebuah kecukupan untuk mempelajari ilmu. Karena itu kami sama sekali tidak membenarkan seorang muslim yang hanya mencukupkan dirinya untuk mengambil ilmu melalui halaman2 di sosial media lalu berasa cukup dengannya sehingga dia lalai dari menghadiri majelis ilmu.

    Rasulullah bersabda:

    مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

    “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu (syar’i), Allah akan memudahkan baginya dengan ilmu tersebut, jalan menuju surga.” - [HR. Muslim no. 2699].

    Semangat dalam menuntut ilmu agama harus lebih besar dari menuntut ilmu dunia. Karena ilmu agama menentukan kebahagiaan dunia dan akhirat, sedang ilmu dunia hanya untuk kebahagiaan dunia saja.

    Semoga kita semua dimudahkan langkahnya dalam menghadiri taman-taman surga ini.

    Semoga bermanfaat, baarakallahu fiikum