Berikut beberapa faidah khutbah shalat Idul Fitri 1436 H di Masjid al-Fattah Jatinegara, yang dibawakan oleh al-Ustadz Ahmad Rasyid Bazheir -hafizhahullah-
1. Kita datang ke dunia dengan tidak membawa apa-apa, sama seperti sebagaimana kita dikeluarkan dari perut ibu kita. Allah berfirman yang artinya, “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati agar kalian bersyukur.” [1].
2. Kemudian, meskipun manusia dengan segala "ketidakpunyaan"-nya tersebut, Allah memberikan kepada manusia amanah, dimana amanah tersebut adalah amanah yang enggan diterima oleh tiga makhluk Allah yang sungguh sangat luar biasa apabila dibandingkan dengan manusia. Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh." [2].
3. Kita tidak hidup di dunia ini seperti hewan, yang menjalani kehidupannya dengan makan, minum, istirahat, menggauli, kemudian mati. Melainkan seperti yang difirmankan Allah, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." [3].
4. Allah tidak membutuhkan ibadah kita sama sekali, tapi kita yang membutuhkannya. Karena ketahuilah, nikmat yang Allah berikan kepada kita, melebihi ibadah yang kita persembahkan kepada Allah. Sementara itu, salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita, adalah nikmat Ramadhan. Untuk mengoptimalkan, meraih ampunan Allah, keridhaan Allah, surganya Allah. Dimana Allah memberikan semuanya kepada orang-orang yang "mau". Yaitu, orang-orang yang beriman. Yang menjadikan ibadahnya adalah sesuatu kebutuhan baginya.
Allah berfirman dalam hadits qudsi, "Wahai hamba-hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, mereka semua berada pada taraf ketakwaan seorang paling tinggi tingkat ketakwaannya di antara kalian, hal itu takkan menambah kerajaanKu sedikit pun. Seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari kalangan bangsa jin dan manusia, mereka semua berada pada taraf kedurhakaan seorang yang paling tinggi tingkat kedurhakaannya di antara kalian, hal itu takkan mengurangi kerajaanKu sedikit pun." [4]. Dalam hadits ini dijelaskan sebagai mana kebutuhan kita terhadap Allah.
5. Malaikat Allah, Jibril, berdo'a kepada Allah dimana do'a ini diaminkan oleh Rasulullah. Rasulullah bersabda, "Jibril telah datang kepadaku dengan mengatakan: "Barangsiapa yang telah datang kepadanya bulan Ramadhan(puasa), kemudian dia tidak mendapatkan pengampunan (pada bulan Ramadhan tersebut), maka ia dimasukkan kedalam api neraka, dan Allah jauh dari dirinya, maka katakanlah 'amin'." [5]
6. Orang yang ketika Ramadhan selesai, kemudian dia memperoleh keistiqamahan dalam kehidupannya, maka itu merupakan tanda-tanda kebaikan pada orang tersebut. Ibnu Rajab berkata, "Bagaimana air mata seorang mukmin tidak menetes karena perpisahannya dengan Ramadhan, sementara ia tidak tahu apakah sisa umurnya, Allah akan pertemukannya kembali dengan Ramadhan kedepannya." [6].
Ustadz Ahmad berkata, "Apakah air mata khasyatullah (karena takut akan Allah) sudah tidak ada di dalam diri kita, ya ikhwan, sehingga ketika bulan Ramadhan berlalu, maka berlalu begitu saja. Tidak ada atsar (bekas) ketika kita meninggalkan bulan Ramadhan. Tidak ada rasa takut kepada Allah di dalam hati ini, yang dengan rasa takut tersebut dapat membakar syahwat (hawa nafsu) kita, membakar hati yang sudah kelam, hati yang sudah menghitam karena dosa kemaksiatan yang telah kita lakukan".
7. Umar bin Abdil Aziz dalam khutbahnya berkata, "Wahai manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari lamanya, kalian telah qiyamul lail selama 30 hari lamanya, kalian telah menahan hawa nafsu kalian, menahan lapar dan dahaga kalian selama 30 hari lamanya. Namun para salaf terdahulu, ketika datang hari 'id, banyak diantara mereka yang menangis, bersedih. Dikatakan kepada mereka, 'Janganlah engkau bersedih, karena hari ini adalah hari kemenangan'. Kemudian mereka menjawab, 'Hari ini adalah hari kemenangan. Namun aku adalah seorang hamba, yang oleh Allah ta'ala diberikan amanah untuk beribadah dan beramal shalih. Aku tidak tahu amal shalihku diterima Allah ta'ala atau tidak'."
8. Ketika datangnya sakaratul maut, orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah, malaikat maut akan berkata kepada mereka, "Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan dari Allah". Dalam al-Qur'an dijelaskan, "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku" [7]. Namun ketika dihadapkan dengan orang-orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah, maka malaikat maut akan berkata, "Wahai ruh yang buruk, keluarlah menuju kemarahan dan kemurkaan Allah."
9. Allah berfirman, "Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." [8].
10. Umar bin Abdil Aziz pernah menangis karena memikirkan satu ayat pada al-Qur'an yang berbunyi, "Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam" [9]. Beliau pun berkata, "Aku tidak tahu, pada hari tersebut aku termasuk golongan yang mana". Allah berfirman, "Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya." [10]
11. Ketika itu neraka akan ditanyakan, "(Wahai neraka!), apakah engkau sudah penuh?” Maka neraka menjawab, “Apakah masih ada tambahan lagi, wahai Rabb?" [11]
12. Ustadz Ahmad berkata, "Lihat diri kita, ya ikhwan. Apakah Ramadhan yang telah berlalu telah menjadikan hati kita bersedih, menjadikan hati kita melembut, menjadikan rasa takut kita kepada Allah bertambah. Sesungguhnya air mata ini belum hilang, sesungguhnya hati ini bersedih untuk berpisah denganmu, wahai Ramadhan. Karena kami tidak tahu apakah Allah azza wa jalla akan memberikan kami kesempatan untuk bertemu kembali denganmu, wahai Ramadhan. Karena kami tidak tahu apakah kami tidak tahu apakah kami bisa berpuasa di siang hari lagi. Kami tidak tahu. Kami tidak tahu, apakah kami bisa bertemu kembali denganmu, wahai Ramadhan. Oleh karena itu air mata kami deras mengalir, oleh karena itu hati kami bersedih luar biasa ketika kehilanganmu, wahai Ramadhan."
Download rekaman khutbah di sini: https://goo.gl/iOQ1mp
_________________________________
[1] QS. An Nahl: 78
[2] QS. Al-'Ahzab: 72
[3] QS. Adz-Dzariat: 56
[4] Merupakan potongan dari hadits shahih yang cukup panjang, diriwayatkan oleh Muslim (no. 2577), Ahmad (V/160), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 490), dan terdapat pada Arba'in an-Nawawy hadits no. 24.
[5] Hadits diriwayatkan Ibnu Hibban didalam kitab shahihnya (3:188).
[6] dalam kitab Lathaiful Ma'arif.
[7] QS. Al-Fajr: 27-30
[8] QS. Al-A'raf: 99
[9] Merupakan potongan dari QS. Asy-Syura: 7.
[10] QS. Al-Fajr: 23
[11] QS. Qaf: 30
Sumber: Kajian Islam Statistik







0 komentar:
Posting Komentar