• بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    Faidah Kajian Rutin Masjid Al-Fattah - Syarah Riyadhush Shalihin [22 Syawal 1436 H]



    Pembahasan Kitab: Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadhush Shalihin "Bab 5 Muraqabah - Hadits ke-63"
    Pemateri: al-Ustadz Salim Al-Muhdhar -hafizhahullah-

    Hadits ke-63:
    Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Ya ghulam (anak kecil), aku ajarkan kepadamu beberapa wasiat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi No. 2516, Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam Silsilah Shahihah: 1470)

    Syarah:

    "Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu..."

    Menurut para ulama, makna menjaga Allah artinya menjaga batasan-batasan-Nya, hak-hak, perintah-perintah, serta larangan-larangan-Nya. Bentuk aplikasinya adalah dengan berkomitmen dan istiqamah untuk menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batasan yang dilarang oleh-Nya. Jika semua itu dikerjakan, maka ia termasuk orang yang menjaga Allah sebaik-baiknya.

    Jika seseorang telah menjaga Allah dengan menjaga hak, perintah, dan larangan-Nya, maka konsekuensinya Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Yaitu, “Niscaya Allah akan menjagamu.” Orang yang bersedia untuk menjaga Allah maka Allah akan membalasnya dengan penjagaan pula.

    Menurut Ibnu Rajab, penjagaan Allah ada 2 tingkatan:
    1. Allah akan menjaga hamba-Nya dengan memenuhi kebutuhan dunianya, seperti terjaga badan, anak, keluarga, dan hartanya.
    2. Allah akan menjaga agama dan imannya, inilah penjagaan yang paling agung dan mulia. Seorang hamba akan terjaga dari perkara syubhat maupun syahwat.

    Itulah balasan dari Allah kepada hamba-Nya yang sudi menjaga Allah Ta’ala. Adapun orang yang tidak mau menjaga Allah, maka Allahpun juga enggan menjaganya.

    "...Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu..."

    Maksudnya jika kita menjaga Allah maka Allah senantiasa berada di depan untuk membimbing hamba-hamba-Nya menuju jalan-jalan kebaikan, serta mencegah dari segala keburukan.

    Dari penjelasan di atas, maka bisa diambil faedah bahwa orang yang menjaga Allah maka ia akan mendapatkan dua manfaat sekaligus:
    1. Mendapatkan penjagaan dari Allah
    2. Allah akan sentiasa membimbing di depannya

    Ini membuktikan betapa luar biasa balasan dari Allah kepada hamba-Nya. Kita sadari, betapa-pun upaya kita menjaga Allah, tetap saja kita tidak akan pernah bisa melakukan yang terbaik sesuai dengan perintah-Nya. Tapi, Allah selalu membalas dengan balasan terbaik yang sejatinya itu jauh tak sebanding dengan usaha kita yang serba terbatas.

    Sungguh tidak pantas jika kita berupaya menjaga Allah dengan segenap ibadah akan tetapi ibadah tersebut kita nodai dengan riya dan kesyirikan.

    "...Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah..."

    Jika kita hendak menginginkan sesuatu, maka mintalah kepada Allah, jangan meminta kepada makhluk, sebab Allah adalah Maha Pencipta. Dia-lah yang mampu mengabulkan segala permintaan hamba-Nya, sedangkan makhluk serba diliputi keterbatasan, seringkali tidak mampu atau tidak mau.

    "...Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu..."

    Maknanya, seandainya seluruh manusia atau bahkan seluruh makhluk bersatu untuk memberikan keuntungan kepada kita, maka hal itu tidak akan didapatkan, kecuali jika Allah telah menakdirkannya di lauh mahfudz.

    Dengan untaian wasiat ini Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita beriman kepada takdir. Pada hakikatnya seluruh manusia tidak bisa memberikan manfaat kepada sesamanya, kecuali dengan takdir Allah.

    Maka hendaknya kita memohon kepada Allah agar hati kita ditetapkan dan diteguhkan di atas agama Allah yaitu Islam:

    "Ya Muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala diinik, Ya Musharrifal qulub sharrif qalbi ila thaa’atik. (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu, Wahai Dzat yang Maha Mengarahkan hati, arahkanlah hatiku kepada ketaatan)

    Allahumma akrimna bit-taqwa wal istiqamah (Ya Allah, muliakanlah aku dengan taqwa dan istiqamah"

    "...Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu..."

    Ini juga menunjukan bahwa seluruh bahaya pada hakikatnya datang dari Allah, terjadi dengan takdir dan kehendak-Nya. Jika demikian halnya maka sudah semestinya kita memohon perlindungan hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk. Sebab pada hakikatnya hanya Dia yang mampu mencegah dan mendatangkan mara bahaya.

    Ada beberapa ketakutan yang menjadi ketakutan bagi hamba-hamba Allah:
    1. Ketakutan terhadap kematian, khawatir apakah ia akan menjadi Ahlul Jannah ataukah Ahlun Naar. Sesungguhnya Allah telah menetapkan kepada hamba-Nya apakah ia masuk surga atau neraka. Orang yang shalih sekalipun, apabila ia diwafatkan oleh Allah dalam keadaan maksiat, maka Allah telah tetapkan baginya sebagai Ahlun Naar. Sebaliknya orang yang sering melakukan maksiat, lalu Allah berikan ia hidayah dan mewafatkannya dalam keadaan beramal shalih, maka Allah tetapkan baginya sebagai Ahlul Jannah.

    2. Ketakutan ketika menjawab pertanyaan kubur. Sungguh, siapapun hamba Allah baik ia ustadz ataupun guru bahasa Arab, apabila sudah diberi pertanyaan kubur, mereka akan kesulitan dalam menjawab, sekalipun mereka membawa contekan. Karena yang meringankan pertanyaan kubur itu adalah bekal amalan shalih yang kita lakukan di dunia.

    "...Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

    Yang dimaksud dengan “pena” di sini adalah pena yang menulis seluruh takdir manusia. Sedangkan maksud dari “lembaran-lembaran” adalah lembaran yang digunakan untuk mencatat takdir. Ini artinya seluruh perkara dan kejadian sudah ditetapkan. Apapun yang ditetapkan untuk kita, baik-buruknya pasti akan terjadi. Tidak ada gunanya berkeluh kesah terhadap apa yang menimpa kita. Sebab itu semua datang dari Allah Ta’ala.

    Download rekaman (via Google Drive): https://goo.gl/K71ALf

    Semoga Bermanfaat,
    Baarakallahu fiikum

    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Pesan

    Satu hal yang perlu kita perhatikan bersama bahwa halaman ini hanyalah sebagai jalan alternatif dalam menuntut ilmu, bukan jalan yang paling utama. Sehingga dengan adanya halaman ini -dan halaman-halaman majelis ilmu yang lainnya- tidaklah dimaksudkan dengannya sebagai sebuah kecukupan untuk mempelajari ilmu. Karena itu kami sama sekali tidak membenarkan seorang muslim yang hanya mencukupkan dirinya untuk mengambil ilmu melalui halaman2 di sosial media lalu berasa cukup dengannya sehingga dia lalai dari menghadiri majelis ilmu.

    Rasulullah bersabda:

    مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

    “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu (syar’i), Allah akan memudahkan baginya dengan ilmu tersebut, jalan menuju surga.” - [HR. Muslim no. 2699].

    Semangat dalam menuntut ilmu agama harus lebih besar dari menuntut ilmu dunia. Karena ilmu agama menentukan kebahagiaan dunia dan akhirat, sedang ilmu dunia hanya untuk kebahagiaan dunia saja.

    Semoga kita semua dimudahkan langkahnya dalam menghadiri taman-taman surga ini.

    Semoga bermanfaat, baarakallahu fiikum